Melihat si Kecil mengejan (ngeden) sampai wajahnya memerah dan menangis kesakitan saat mau BAB pasti membuat hati Ibu perih. Rasanya ingin segera membantu, tapi bingung harus melakukan apa.
Sembelit atau konstipasi pada bayi adalah masalah umum, tapi seringkali membuat orang tua panik.
Banyak Ibu yang langsung mengira bayinya sembelit hanya karena tidak BAB selama 3 hari. Padahal, frekuensi BAB bukanlah satu-satunya tolak ukur, lho!
Agar Ibu tidak salah penanganan, mari kita bedah tuntas apa sebenarnya penyebab bayi susah BAB dan bagaimana cara membedakan antara “Jarang BAB Normal” dengan “Konstipasi”.
Bedakan Dulu: Jarang BAB vs. Konstipasi
Sebelum masuk ke penyebab, Ibu harus tahu fakta medis ini:
- Bayi ASI Eksklusif: Sangat wajar jika TIDAK BAB selama 5-10 hari (bahkan 14 hari) asalkan bayi ceria, perut tidak keras, dan kentutnya lancar. Mengapa? Karena ASI terserap sempurna oleh tubuh sehingga ampasnya sedikit.
- Konstipasi (Sembelit): Adalah kondisi di mana feses bayi KERAS, kering, berbentuk bulat-bulat kecil (seperti kotoran kambing), dan bayi menangis kesakitan saat mengeluarkannya.
Jadi, jika bayi Ibu tidak BAB 5 hari tapi saat keluar teksturnya lunak seperti pasta, itu BUKAN sembelit ya, Bu!
5 Penyebab Utama Bayi Susah BAB (Konstipasi)
Jika feses si Kecil memang keras dan ia tampak menderita, berikut adalah biang kerok utamanya:
1. Kekurangan Cairan (Dehidrasi)
Feses butuh air agar tetap lunak dan mudah dikeluarkan. Jika asupan cairan kurang, usus besar akan menyerap kembali cairan dari sisa makanan, membuat feses menjadi kering dan keras.
- Hubungannya dengan Laktasi: Pada bayi di bawah 6 bulan, kurang cairan berarti kurang ASI. Bisa jadi karena pelekatan kurang pas sehingga transfer ASI tidak maksimal, atau manajemen pumping yang belum optimal.
2. Transisi ke MPASI (Makanan Padat)
Ini adalah penyebab paling umum pada bayi usia 6 bulan ke atas. Perut bayi kaget berubah dari menu cair (susu) ke menu padat.
- Penyebab: Terlalu banyak pemberian karbohidrat (bubur nasi kental) tapi kurang serat sayur/buah atau kurang minum air putih.
3. Ketidakcocokan Susu Formula
Susu formula (Sufor) lebih sulit dicerna dibandingkan ASI. Komposisi protein atau lemak dalam merk sufor tertentu bisa membuat feses bayi menjadi lebih padat dan keras. Jika bayi baru ganti merk sufor dan langsung sembelit, bisa jadi itu penyebabnya.
4. Kondisi Medis Tertentu
Meskipun jarang, ada kondisi medis seperti Hirschsprung (gangguan saraf usus) atau hipotiroid yang membuat bayi susah BAB sejak lahir. Namun, ini biasanya disertai gejala lain seperti perut sangat buncit dan muntah.
5. Trauma Menahan BAB
Jika bayi pernah merasakan sakit saat BAB sebelumnya (karena feses keras atau luka di anus), ia mungkin akan sengaja menahan BAB berikutnya karena takut sakit. Ini justru membuat feses makin menumpuk dan makin keras.
Pertolongan Pertama: Cara Mengatasi Bayi Sembelit di Rumah
Jangan langsung diberi obat pencahar (mikrolax) tanpa resep dokter ya, Bu! Coba cara alami ini dulu:
1. Pijatan ILU (I Love U)
Pijatan lembut di perut bayi dapat membantu merangsang gerakan usus (peristaltik).
- Gunakan minyak telon atau baby oil.
- Pijat membentuk huruf I, L, dan U (terbalik) searah jarum jam di perut bayi. Lakukan saat bayi rileks (bukan saat baru selesai menyusu).
2. Gerakan Kayuh Sepeda (Bicycle Exercise)
Baringkan bayi, pegang kedua kakinya, lalu gerakkan seperti sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini membantu mengeluarkan gas dan mendorong feses di usus.
3. Mandi Air Hangat
Berendam di air hangat bisa membuat otot-otot perut dan anus bayi lebih rileks, sehingga memudahkan proses BAB.
4. Perbaiki Asupan ASI (Evaluasi Pelekatan!)
Untuk bayi di bawah 6 bulan, “obat” pencahar alami terbaik adalah ASI (terutama Foremilk).
- Jika bayi sering sembelit dan pipisnya juga sedikit (pekat), tandanya ia butuh lebih banyak ASI.
- Pastikan posisi menyusui sudah benar agar bayi bisa mendapatkan ASI sebanyak yang ia butuhkan untuk melunakkan fesesnya.
Kapan Harus ke Dokter atau Konselor Laktasi?
Ibu perlu waspada jika sembelit disertai:
- Ada darah segar di feses.
- Bayi demam atau muntah.
- Berat badan bayi tidak naik (stagnan).
Jika masalahnya berulang dan Ibu curiga penyebabnya adalah asupan ASI yang kurang (ditandai dengan pipis jarang dan kenaikan BB seret), mari kita evaluasi segera.
Jangan biarkan si Kecil menderita karena dehidrasi terselubung. Di Bisaasi.com, saya siap membantu Ibu mengecek kecukupan ASI dan memperbaiki teknik menyusui agar pencernaan bayi lancar kembali.
👉 Bantu Lancarkan BAB Si Kecil dengan Evaluasi ASI di Sini
Sehat terus untuk si Kecil ya, Bu. Ingat, pencernaan sehat berawal dari asupan yang tepat!

