Sebagai Ibu, menjaga asupan cairan si Kecil adalah prioritas nomor satu. Namun, karena bayi belum bisa bicara dan bilang “Aku haus, Bu”, seringkali kita bingung apakah ASI yang masuk sudah cukup atau belum.
Dehidrasi pada bayi bisa terjadi sangat cepat, terutama jika bayi sedang sakit (demam/diare) atau jika transfer ASI tidak efektif di hari-hari pertama kelahiran.
Kondisi ini tidak boleh disepelekan karena bisa memengaruhi fungsi organ vital. Agar Ibu tidak panik namun tetap waspada, yuk kenali 7 tanda dehidrasi pada bayi berikut ini.
Tanda Awal (Dehidrasi Ringan)
Di tahap ini, Ibu harus segera bertindak dengan menggencarkan pemberian ASI (nursing strike).
1. Frekuensi Pipis Berkurang Drastis
Ini adalah indikator paling mudah dilihat.
- Normal: Bayi usia >5 hari minimal ganti popok basah 6 kali sehari.
- Tanda Dehidrasi: Popok tetap kering selama 4-6 jam, atau berat popok terasa sangat ringan saat diganti.
2. Warna Urine Pekat & Berbau
Cek warna pipisnya, Bu.
- Jika warnanya kuning tua, oranye, atau bahkan kecokelatan, itu tanda tubuh bayi kurang cairan.
- Urine yang berbau menyengat (seperti amonia) juga menjadi ciri khas dehidrasi.
3. Bibir dan Mulut Kering
Perhatikan bibir si Kecil. Jika terlihat pecah-pecah, kering, dan bagian dalam mulutnya terasa lengket (kurang air liur), Ibu harus segera menyusuinya.
4. Menangis Tanpa Air Mata
Pada bayi yang sudah berusia di atas 2 bulan, menangis biasanya disertai air mata. Jika si Kecil menangis kencang tapi matanya kering, ini tanda cadangan air dalam tubuhnya menipis.
Tanda Lanjut (Segera ke Dokter/UGD!)
Jika tanda awal di atas dibiarkan, bayi bisa jatuh ke kondisi dehidrasi sedang hingga berat. Waspadai tanda fisik berikut:
5. Ubun-Ubun Cekung (Sunken Fontanelle)
Coba raba bagian lunak di atas kepala bayi (ubun-ubun). Dalam kondisi normal, permukaannya rata atau sedikit melengkung keluar saat menangis.
- Bahaya: Jika ubun-ubun terlihat cekung ke dalam (seperti mangkuk) secara drastis, ini tanda dehidrasi serius.
6. Bayi Tampak Sangat Lemas (Lethargic)
Bayi yang biasanya aktif tiba-tiba jadi “lunglai”, tidur terus-menerus, dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu. Jangan biarkan bayi tidur panjang jika kondisinya seperti ini ya, Bu.
7. Kulit Tidak Elastis (Turgor Kulit Buruk)
Cubit lembut kulit perut bayi lalu lepaskan. Jika kulitnya kembali rata dengan lambat (meninggalkan bekas cubitan beberapa detik), artinya kekenyalan kulit hilang karena kurang cairan.
Apa Penyebab Utamanya? (Kaitan dengan Menyusui)
Selain karena sakit (muntah/diare), penyebab utama dehidrasi pada bayi baru lahir adalah Kurangnya Asupan ASI.
“Tapi saya menyusui setiap jam, kok bayi tetap dehidrasi?”
Nah, ini yang sering terjadi. Ibu mungkin menyusui sering dan lama, tapi ASI yang tertelan hanya sedikit. Ini biasanya disebabkan oleh:
- Pelekatan yang salah: Bayi hanya “mengempeng” puting, tidak memerah payudara.
- Tongue Tie: Lidah bayi tidak leluasa memerah ASI.
- Posisi tidak nyaman: Bayi capek duluan sebelum kenyang.
Pertolongan Pertama: “More Milk, More Comfort”
Jika bayi menunjukkan tanda dehidrasi ringan:
- Jangan beri air putih (untuk bayi < 6 bulan), karena ginjalnya belum kuat. Solusinya hanya ASI atau Sufor (jika ada indikasi medis).
- Skin-to-Skin: Dekap bayi di dada Ibu untuk menstabilkan suhunya dan memancing insting menyusu.
- Bangunkan Bayi: Susui setidaknya setiap 2 jam sekali. Jangan tunggu bayi menangis.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Ibu, jangan tunggu sampai ubun-ubun cekung baru panik. Kunci mencegah dehidrasi adalah memastikan setiap sesi menyusu itu EFEKTIF. Bayi kenyang, Ibu tenang.
Jika Ibu merasa bayi menyusu lama tapi popoknya jarang basah, atau berat badannya turun terus, ayo segera evaluasi teknik menyusuinya.
Di layanan One Hour Consult Bisaasi.com, saya akan bantu Ibu mengecek apakah transfer ASI sudah berjalan baik atau belum. Kita perbaiki pelekatan agar si Kecil mendapatkan full tank ASI setiap kali menyusu.
👉 Cegah Dehidrasi, Jadwalkan Evaluasi Menyusui & Cek Pelekatan Di Sini

