Menyusui selama dua tahun (atau lebih) adalah prestasi luar biasa. Namun, ketika tiba waktunya untuk berhenti, banyak Ibu yang merasa campur aduk. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa sedih dan khawatir. “Apakah si Kecil akan menangis histeris?”, “Apakah dia akan merasa ditolak?”
Menyapih (Weaning) bukan sekadar menghentikan pemberian ASI, melainkan sebuah proses transisi menuju kemandirian anak.
Di BisaASI.com, kami sangat menyarankan metode Weaning with Love (WWL). Artinya, menyapih dengan cinta, bertahap, dan menghargai kesiapan kedua belah pihak. Yuk, simak cara menyapih anak tanpa drama agar momen “kelulusan” ini menjadi kenangan manis.
1. Lakukan “Sounding” (Afirmasi Positif) Jauh-Jauh Hari
Jangan menyapih secara mendadak. Anak butuh waktu untuk mempersiapkan mentalnya. Mulailah melakukan sounding atau komunikasi hipnosis ringan sejak 1-2 bulan sebelum target berhenti.
Katakan kalimat positif saat anak mau tidur, seperti:
“Adik sekarang sudah besar, sudah pintar makan nasi dan minum di gelas. Nanti nenennya untuk adik bayi saja ya. Adik minum susu di gelas yang keren.”
Ulangi terus-menerus agar alam bawah sadar anak merekam bahwa berhenti menyusu adalah hal yang normal dan membanggakan, bukan hukuman.
2. Rumus Emas: “Don’t Offer, Don’t Refuse”
Ini adalah prinsip dasar menyapih tanpa paksaan.
- Don’t Offer (Jangan Tawarkan): Jika anak sedang asyik bermain dan tidak minta menyusu, jangan ditawarkan.
- Don’t Refuse (Jangan Menolak): Jika anak meminta, jangan tolak mentah-mentah atau memarahinya. Berikan sebentar, lalu alihkan perhatiannya.
3. Ubah Rutinitas Tidur (Libatkan Ayah)
Bagi banyak anak, menyusu bukan cuma soal lapar, tapi soal kenyamanan (comfort nursing) untuk pengantar tidur. Ini biasanya bagian tersulit.
Cobalah ubah rutinitas sebelum tidur:
- Ganti menyusu dengan membacakan buku dongeng atau memeluk (cuddle) sambil mengelus punggung.
- Libatkan Ayah: Biarkan Ayah yang menemani anak tidur selama masa transisi. Anak biasanya tidak akan meminta “nenen” jika yang menemani adalah Ayahnya.
4. Pendekatan “Shorten The Session” (Kurangi Durasi)
Jika biasanya anak menyusu selama 15-20 menit, mulailah bernegosiasi untuk memendekkannya. Contoh: “Boleh nenen, tapi sambil Ibu hitung 1 sampai 10 ya. Setelah itu kita main lagi.” Lakukan bertahap hingga akhirnya anak lupa untuk meminta.
5. Ciptakan Distraksi yang Menyenangkan
Anak sering meminta menyusu karena bosan. Antisipasi jam-jam rawan “minta nenen” dengan kegiatan seru atau camilan sehat.
- Ajak main ke taman.
- Berikan snack favoritnya.
- Berikan minuman segar di sippy cup atau gelas dengan karakter lucu kesukaannya.
6. Jangan Lupa Rawat Payudara Ibu
Menyapih bukan cuma soal anak, tapi juga kesehatan Ibu. Berhenti menyusui tiba-tiba (cold turkey) bisa menyebabkan payudara bengkak parah hingga mastitis.
- Jangan perah sampai kosong: Jika payudara terasa penuh dan sakit, perah sedikit saja (cukup untuk menghilangkan rasa sakit), jangan sampai kosong. Ini memberi sinyal tubuh untuk mengurangi produksi secara alami.
- Kompres Dingin: Gunakan kompres dingin (es batu dibalut kain) untuk mengurangi bengkak dan nyeri.
Kapan Ibu Butuh Konsultasi?
Terkadang, proses menyapih memicu masalah fisik seperti saluran ASI tersumbat (clogged duct) karena pengosongan yang tidak tuntas, atau masalah emosional di mana Ibu merasa baby blues kembali (akibat perubahan hormon drastis).
Jika Ibu mengalami:
- Payudara bengkak, merah, dan demam saat proses menyapih.
- Anak menunjukkan tanda stres berat (tidak mau makan, tantrum berlebihan).
- Ibu merasa depresi atau cemas berlebih.
Jangan ragu untuk menghubungi BisaASI.com. Bersama Bidan Desyntia, kami bisa membantu Ibu mengatur strategi menyapih yang aman secara medis dan nyaman secara psikologis. Kami juga menyediakan layanan pijat laktasi untuk mencegah mastitis saat proses penyapihan.
Selamat Lulus ASI, Ibu Hebat! Terima kasih sudah berjuang memberikan nutrisi terbaik selama ini. Jika Ibu butuh konsultan laktasi/menyusui Ibu bisa langsung Whatsapp ke nomor kami 0815-2398-1296.

