Cara Merawat Tali Pusar Bayi Agar Tidak Infeksi dan Cepat Puput | Bisa ASI

cara merawat tali pusar bayi agar tidak infeksi dan cepat puput bisa asi

Saat membawa pulang bayi baru lahir ke rumah, salah satu “oleh-oleh” yang paling bikin Ibu dan Ayah deg-degan adalah sisa tali pusar yang masih menempel.

Bentuknya yang hitam, sedikit basah, dan menggantung seringkali membuat orang tua takut menyentuhnya. “Nanti kalau ditarik sakit nggak ya?”, “Perlu dikasih alkohol biar steril?”, atau “Boleh dimandikan nggak?”

Tenang, Ibu. Tali pusar tidak memiliki saraf rasa sakit, jadi bayi tidak akan kesakitan saat Ibu merawatnya. Kunci utamanya hanya satu: Bersih dan Kering.

Di BisaASI.com, kami merangkum panduan cara merawat tali pusar sesuai standar medis terbaru agar si Kecil bebas infeksi.

Metode Terbaik: “Open Dry Care” (Biarkan Terbuka)

Dulu, orang tua kita mungkin mengajarkan untuk membungkus tali pusar dengan kasa steril yang dibasahi alkohol atau Betadine. Cara ini sudah tidak direkomendasikan lagi.

Penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa tali pusar akan lebih cepat kering dan lepas (puput) jika dibiarkan terbuka terkena udara. Penggunaan alkohol justru bisa membunuh bakteri baik yang membantu proses pengeringan alami.

Langkah-Langkah Merawat Tali Pusar Sehari-hari

Berikut rutinitas sederhana yang bisa Ibu lakukan setiap habis mandi:

1. Cuci Tangan Wajib

Sebelum menyentuh area perut bayi, pastikan tangan Ibu/Ayah sudah dicuci bersih dengan sabun. Ini pertahanan pertama melawan kuman.

2. Mandi Seperti Biasa

Bolehkah tali pusar kena air? Boleh. Ibu tidak perlu takut memandikan bayi. Bersihkan area sekitar tali pusar dengan air matang/air hangat dan sabun bayi secara lembut. Tidak perlu digosok keras.

3. Keringkan dengan Menepuk (Dabbing)

Setelah mandi, gunakan kassa steril atau handuk lembut yang bersih. Tekan-tekan lembut (tap-tap) pada seluruh bagian tali pusar—dari pangkal hingga ujung—sampai benar-benar kering.

  • Tips: Jangan menutup perut bayi dengan baju sebelum tali pusar kering sempurna.

4. Lipat Popok ke Bawah

Saat memakaikan popok (diapers), pastikan karet pinggang popok dilipat ke bawah agar tidak menutupi tali pusar.

  • Tujuannya: Agar tali pusar terkena udara dan tidak terkena gesekan atau tercemar air pipis bayi.

Hati-Hati! Jangan Lakukan Ini (Mitos vs Fakta)

Banyak saran “turun temurun” yang ternyata berbahaya. Hindari hal-hal berikut:

  • JANGAN menaburkan bedak/kopi: Ini akan menjadi sarang kuman dan memicu infeksi tetanus.
  • JANGAN menempelkan koin: Mitos agar pusar tidak bodong ini tidak terbukti medis, malah koin yang kotor bisa menyebabkan infeksi kulit.
  • JANGAN pakai gurita terlalu kencang: Gurita yang terlalu ketat membuat area pusar lembap dan sulit bernapas.
  • JANGAN ditarik paksa: Biarkan tali pusar lepas dengan sendirinya (biasanya 5-14 hari). Menarik paksa bisa menyebabkan pendarahan.

Tanda Bahaya: Kapan Harus ke Dokter?

Normalnya, tali pusar yang mau lepas akan sedikit berbau (bau jaringan mati) dan ada sedikit darah kering. Itu wajar.

Namun, segera hubungi Bidan Desyntia atau Dokter jika Ibu melihat tanda infeksi (Omphalitis):

  1. Pangkal pusar merah dan bengkak.
  2. Keluar nanah atau cairan kekuningan terus menerus.
  3. Baunya sangat menyengat (busuk).
  4. Bayi demam atau rewel kesakitan saat area sekitar pusar disentuh.

Konsultasi Perawatan Bayi Baru Lahir

Masih takut memandikan bayi atau bingung membedakan mana pusar normal dan infeksi?

Kami menyediakan layanan Home Care di area Bekasi, di mana Bidan kami akan datang mengajarkan Ibu cara memandikan dan merawat tali pusar secara langsung. Whatsapp ke nomor 0815-2398-1296 kami sekarang!