Halo, Bunda hebat.
Jika Bunda membaca artikel ini sambil menggendong si Kecil yang sedang menangis histeris, atau membacanya dengan mata sembab karena kelelahan, kami ingin bilang: Tarik napas dalam-dalam. Bunda tidak salah. Bunda sudah melakukan yang terbaik.
Menangis adalah satu-satunya cara komunikasi bayi. Namun, ketika tangisannya berlangsung berjam-jam dan sulit ditenangkan (inconsolable crying), wajar jika Bunda merasa cemas, bingung, bahkan frustrasi.
Di BisaASI.com, kami memahami betapa menguras emosinya momen ini. Sebelum Bunda buru-buru ke IGD, mari kita cek satu per satu penyebab bayi menangis terus menerus yang paling umum terjadi.
1. Lapar (Growth Spurt)
“Lho, padahal baru saja menyusu 30 menit lalu, masa lapar lagi?”
Bisa jadi, Bun! Bayi mengalami fase lonjakan pertumbuhan (Growth Spurt) di usia tertentu (misal: 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan). Di fase ini, kebutuhan kalorinya meningkat drastis. Ia akan minta menyusu terus-menerus (Cluster Feeding).
- Solusi: Susui saja semau bayi. Jangan lihat jam. Ini fase sementara untuk menaikkan produksi ASI Bunda juga.
2. Popok Basah atau Pakaian Tidak Nyaman
Kulit bayi sangat sensitif. Sedikit saja rasa lembap dari pipis atau pup bisa membuatnya risih. Selain itu, periksa apakah ada benang baju yang melilit jari kakinya (hair tourniquet) atau label baju yang gatal.
- Solusi: Cek popok. Ganti baju dengan bahan katun tipis jika ia berkeringat (kepanasan) atau tambahkan selimut jika tangan kakinya dingin.
3. Kelelahan Parah (Overtired)
Ini adalah paradoks bayi: Semakin dia mengantuk, semakin dia susah tidur dan makin kencang menangis. Bayi yang sudah telat jam tidurnya akan memproduksi hormon stres (kortisol) yang membuatnya “melek” tapi rewel parah.
- Solusi: Bawa ke ruangan redup, ayun perlahan, bunyikan suara “Shhh…” (white noise), dan hindari kontak mata berlebih.
4. Perut Kembung atau Kolik
Coba perhatikan, apakah saat menangis bayi menarik kakinya ke arah perut lalu meluruskannya lagi dengan kaku? Apakah wajahnya memerah padam dan tangisannya bernada tinggi? Ini ciri khas Kolik atau perut kembung. Pencernaan bayi belum sempurna, sehingga gas sering terperangkap dan bikin mulas.
- Solusi: Lakukan gerakan kaki “mengayuh sepeda” (bicycle legs) atau pijat perut dengan teknik ILU (I Love U).
5. Overstimulasi (Terlalu Rame)
Bayi punya batas toleransi terhadap suara, cahaya, dan sentuhan. Jika seharian ia digendong banyak orang, mendengar TV keras, atau diajak main terus, sistem sarafnya bisa “konslet”. Menangis adalah caranya bilang: “Cukup! Aku butuh istirahat!”
- Solusi: Reset suasana. Bawa bayi ke kamar sepi dan gelap. Hanya berdua dengan Bunda. Peluk (skin-to-skin) tanpa banyak bicara.
6. Ingin Mengempeng (Comfort Sucking)
Kadang bayi menangis bukan karena lapar susu, tapi karena butuh rasa nyaman. Menghisap adalah mekanisme alami bayi untuk menenangkan diri.
- Solusi: Tawarkan payudara (non-nutritive sucking) atau jari bersih Bunda/Ayah.
7. Sedang Sakit
Jika 6 poin di atas sudah dicek dan bayi masih menangis dengan nada merintih atau melengking yang berbeda dari biasanya, cek suhu tubuhnya.
- Waspada: Demam di atas 38°C, muntah-muntah, atau ada bagian tubuh yang bengkak (misal pasca imunisasi).
Kapan Harus Minta Bantuan?
Jika Bunda merasa sudah melakukan semuanya tapi bayi tetap menangis (Purple Crying) dan Bunda merasa di ambang batas emosi:
- Letakkan bayi di tempat aman (kasur).
- Keluar kamar sejenak (5 menit) untuk minum air atau cuci muka.
- Panggil bantuan (Suami, Nenek, atau Tetangga).
Atau, Bunda bisa memanggil bantuan profesional.
Seringkali, bayi menangis terus karena tubuhnya tegang (kaku) atau ada masalah pelekatan menyusui yang membuatnya tidak kenyang dan kembung.
Bidan Desyntia siap membantu Bunda lewat layanan Home Care (Bekasi & Cikarang):
- Baby Massage: Memijat titik relaksasi agar otot bayi lemas, gas keluar, dan tidur pulas.
- Konseling Laktasi: Memastikan bayi menyusu efektif agar kenyang dan tenang.
Jangan biarkan stres berlarut-larut. Yuk, buat si Kecil (dan Bunda) tersenyum lagi.

